Ketika masa jabatannya sebagai Presiden Italia hampir berakhir, Mariano de Santis menghadapi keputusan-keputusan yang memilukan, baik yang bersifat politis maupun yang bersifat sangat pribadi. di tengah kesulitan moral ini, ia harus menghadapi hati nuraninya sendiri dan mencari bimbingan dari orang-orang terdekatnya, termasuk orang kepercayaan dan putrinya, dorotea.






